TributeNews86.com, KUALA TUNGKAL — Penampilan Noise Musik Iyan Abah di panggung “Tungkal Pentas Puisi Vol. 2” berhasil menjadi sorotan penonton, acara yang diadakan oleh Komunitas Ambung Nyastra tersebut digelar di Taman Siswa Kuala Tungkal, Sabtu (12/09/2026).
Mengusung Tema “September Tanpa Biru” acara ini dihadiri banyak seniman Kuala Tungkal khususnya di bidang sastra dan musik serta turut hadir juga komunitas-komunitas. Acara ini bertujuan untuk menjaga silaturahmi antar sesama, melalui panggung seni yang juga menjadi panggung untuk berekspresinya para seniman. Salah satunya adalah Iyan Abah, yang berhasil menjadi sorotan melalui karya Noise Music.
Iyan Abah mengatakan Noise Music ini merupakan bentuk kegelisahan dan protes terhadap cara bermusik yang selama ini dianggap mapan dan konvensional. Karya ini berangkat dari sebuah rasa bosan terhadap proses bermusik yang terlalu dibebani tuntutan teknis: latihan panjang, persiapan yang rumit, pengulangan yang melelahkan, hingga akhirnya seluruh proses tersebut hanya bermuara pada sebuah apresiasi yang sering kali berlangsung sesaat. Melawan Kesempurnaan dalam musik konvensional, keterampilan memainkan instrumen, ketepatan nada, harmonisasi, aransemen, serta kesiapan pertunjukan sering menjadi ukuran keberhasilan.
“Saya merasa muak dengan proses bermusik yang terkadang begitu ribet. Latihan panjang, persiapan panjang, mengejar kesempurnaan, lalu setelah tampil kita hanya mendapatkan euforia sesaat. Saya ingin mempertanyakan kembali: apakah musik harus selalu seperti itu?” Ungkapnya,
Bagi Iyan Abah, pertanyaan tersebut bukan berarti menolak latihan, keterampilan, atau tradisi bermusik. Sebaliknya, ia sedang mempertanyakan ketergantungan terhadap pola yang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan musik.
“Melalui Noise Music kita mencoba menciptakan sebuah pengalaman yang tidak memberikan kenyamanan musikal sebagaimana yang biasa diharapkan penonton,” Tambahnya.
Iyan Abah tidak tampil sendirian. Eksplorasi bunyi tersebut dibantu oleh M. Rizky Al Syafiq pada synthesizer. Synthesizer menjadi bagian dari konstruksi suara yang memungkinkan keduanya mengeksplorasi bunyi elektronik, tekstur, frekuensi, repetisi, dan distorsi secara lebih bebas.
Kolaborasi ini tidak diarahkan untuk menciptakan sebuah musik yang “sempurna”, tetapi untuk membangun ruang bunyi yang dapat membawa penonton masuk ke dalam pengalaman kegelisahan dan ketidaknyamanan.
Iyan Abah, merupakan seniman Kuala Tungkal yang aktif menciptakan karya seni musik khususnya musik tradisi yang tidak terlepas dari gelar Sarjana Seninya lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Prodi Seni Karawitan yang memang menjadi titik fokus untuk mempelajari, menggali dan mengembangkan seni musik tradisi.
(AL)
